Sebuah survei terbaru mengungkapkan fenomena yang menarik di kalangan pengguna iPhone dewasa di Amerika Serikat. Bisa dikatakan hal ini cukup baik karena beritanya Apple sukses mengiklankan versi iOS terbaru mereka yang saat ini telah memasuki versi iOS 26. Tapi masa iya?
Survei yang dilakukan oleh SellCell terhadap 2.000 responden menemukan bahwa 22% pengguna belum memperbarui perangkat mereka ke iOS 26, sistem operasi terbaru Apple yang telah tersedia sejak September 2025.
Alasan yang paling banyak disebutkan ternyata cukup sederhana: ketidaktahuan akan ketersediaan pembaruan tersebut (22%) dan asumsi bahwa pembaruan akan berjalan otomatis (15%).
Namun, di balik itu, tersimpan kekhawatiran yang lebih mendalam. Faktor utama lainnya adalah kekhawatiran terhadap penurunan daya tahan baterai (17%) dan kinerja ponsel yang menjadi lebih lambat (15%) pasca-pembaruan.
Survei ini juga menunjukkan bahwa mayoritas pengguna (61%) mengadopsi strategi “tunggu dan lihat” (Wait And See). Mereka tidak langsung memperbarui ketika versi baru dirilis, melainkan menunggu untuk memastikan tidak ada masalah besar yang dilaporkan oleh pengguna lain terlebih dahulu.
Hanya 28% responden yang mengaku tidak memiliki kekhawatiran sama sekali terhadap iOS 26. Sebenarnya isu ini sudah lama dirasakan oleh pengguna Apple khususnya iPhone di mana tahap awal memang sempat Drop dan hanya butuh beberapa waktu untuk kembali normal.
Selain aspek teknis, perubahan estetika juga menjadi pertimbangan. Sebagian pengguna menilai desain antarmuka baru “Liquid Glass” yang diperkenalkan di iOS 26 kurang menarik atau kurang mudah dibaca.
Kekhawatiran lain yang muncul adalah ketidakmungkinan untuk kembali (Downgrade) ke versi iOS sebelumnya setelah memperbarui. Temuan ini memberikan gambaran nyata tentang tantangan yang dihadapi Apple dalam mendorong adopsi pembaruan, di mana faktor kepercayaan dan kebiasaan pengguna memainkan peran yang signifikan.
