Home » Seruan Wamenkomdigi Hadapi Banjir Hoaks dan Deepfake AI di Kalangan Anak
AI

Seruan Wamenkomdigi Hadapi Banjir Hoaks dan Deepfake AI di Kalangan Anak

by admin

Di tengah banjir informasi dan maraknya konten hoaks yang diperparah oleh teknologi kecerdasan buatan (AI), pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menawarkan paradigma baru dalam perlindungan anak di ruang digital.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah pertahanan utama yang harus dibangun, alih-alih sekadar mengandalkan pemblokiran atau filter.

“Ini kunci membuat kita waras dan sehat di dunia digital, bukan hanya sebagai penerima pasif,” ujarnya dalam Forum Saling Jaga Tunas Bangsa di Tangerang Selatan.

Nezar mengutip strategi riset dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang terdiri dari tiga tahap, Learn (Belajar), Evaluate (Evaluasi), dan Reflect (Refleksi).

Tahap pertama menekankan pentingnya anak memiliki basis pengetahuan yang kuat dari buku dan diskusi dunia nyata, agar wawasannya tidak hanya dibentuk oleh algoritma media sosial. Tahap kedua adalah membangun skeptisisme sehat dengan mengajukan pertanyaan kritis terhadap setiap klaim.

Tahap terakhir, Reflect, menjadi krusial untuk mengidentifikasi realitas sinteti yang diciptakan AI, seperti teknologi deepfake yang dapat memanipulasi wajah menjadi konten pornografi atau alat perundungan.

Nezar secara khusus menyoroti fenomena mengkhawatirkan yang disebutnya defisit pertanyaan di kalangan generasi muda. Ia menilai saat ini kemampuan untuk menggugat dan mempertanyakan sebuah informasi jauh lebih penting daripada sekadar mampu memberikan jawaban.

“Kita lebih banyak menerima daripada melakukan gugatan terhadap apa yang disajikan. Karena itu, pertanyaan kritis harus terus dilatih agar anak-anak kita menjadi Digital Citizens yang tangguh,” tambahnya.

Pernyataan ini merupakan pengakuan bahwa di era di mana AI dapat dengan mudah menciptakan konten palsu yang sangat meyakinkan, pendekatan keamanan digital tradisional sudah tidak memadai.

Kemkomdigi berkomitmen menciptakan ekosistem digital yang aman melalui regulasi dan edukasi, yang selaras dengan slogannya “Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga”.

Namun, Nezar menekankan bahwa fondasi paling kokoh harus dibangun dari dalam diri setiap pengguna muda sebuah kemampuan kognitif untuk memilah, menganalisis, dan memverifikasi informasi senjata paling ampuh untuk bertahan di tengah medan perang informasi modern.

You may also like

Leave a Comment