Home » Starlink Turunkan Orbit Satelit: Langkah Cerdas Atasi Sampah Antariksa atau Strategi Bisnis Terselubung?
Starlink

Starlink Turunkan Orbit Satelit: Langkah Cerdas Atasi Sampah Antariksa atau Strategi Bisnis Terselubung?

by admin

SpaceX perusahaan antariksa Elon Musk, mengumumkan rencana kontroversial namun strategis: menurunkan ketinggian orbit bagi ribuan satelit Starlink generasi mendatang.

Dari ketinggian operasional semula sekitar 350 kilometer, satelit masa depan akan beroperasi lebih dekat ke Bumi, di ketinggian sekitar 340 kilometer. Langkah ini, diklaim perusahaan, adalah untuk meningkatkan keselamatan luar angkasa di tengah kepadatan orbit Bumi rendah (LEO) yang semakin mencekik.

Rencana yang diajukan ke regulator komunikasi AS, FCC, ini muncul di tengah tekanan global yang meningkat mengenai masalah sampah antariksa dan risiko tabrakan.

Dengan lebih dari 6.000 satelit Starlink yang telah diluncurkan, konstelasi mega ini telah mengubah wajah akses internet global tetapi sekaligus menjadi sumber kecemasan utama bagi komunitas antariksa.

“Operasional di orbit yang lebih rendah berarti satelit yang mati atau tidak berfungsi akan lebih cepat terseret ke atmosfer Bumi dan terbakar, mengurangi waktu mereka menjadi ‘sampah’ berbahaya yang melayang-layang,” jelas pernyataan perusahaan, seperti dilaporkan.

Ini secara signifikan memitigasi risiko tabrakan jangka panjang. Secara teori, logika ini masuk akal. Gravitasi dan sisa atmosfer di ketinggian lebih rendah akan bekerja lebih cepat sebagai pembersih alami.

Namun, beberapa analis melihat motif lain yang lebih pragmatis di balik keputusan ini. “Orbit yang lebih rendah berarti latency (keterlambatan sinyal) bisa lebih rendah, meningkatkan performa untuk aplikasi seperti video call dan gaming, yang menjadi pasar potensial besar,” ungkap Laura Forczyk, analis antariksa.

“Ini juga bisa menjadi strategi untuk mempersulit pesaing, karena slot orbit yang lebih rendah dan lebih ‘bersih’ adalah sumber daya yang terbatas.” Lanjutnya.

Kritik juga muncul. Satelit di orbit lebih rendah memiliki cakupan area yang lebih kecil, sehingga membutuhkan lebih banyak satelit untuk mencapai cakupan global yang sama, sebuah paradoks yang justru bisa memperparah kemacetan di jalur orbit tertentu.

Selain itu, mereka lebih cepat kehilangan ketinggian, membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk manuver pemeliharaan, yang pada akhirnya dapat memperpendek usia operasional.

Langkah Starlink ini, bagaimanapun, menandai sebuah pengakuan, era pembangunan konstelasi satelit besar-besaran tanpa memedulikan keberlanjutan telah berakhir. Ini adalah permainan catur orbital yang rumit, di mana keselamatan, bisnis, dan dominasi pasar saling bertautan. Dunia kini menunggu respons regulator dan bagaimana pesaing seperti Amazon’s Kuiper akan menanggapi langkah pre-emptif ini.

You may also like

Leave a Comment